Recent Videos

Kartu Lebaran 2012

Minal Aidin Wal faizin, Mohon Maaf lahir Batin, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433H.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Perspektif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perspektif. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2009

Berapa banyak sih Rp 1,7 Trilyun itu?

25 May 2009

Kalau ditabung dengan deposito 9% setahun, bunganya

* Rp 153 Milyar setahun, atau
* Rp 12,75 M sebulan, atau
* Rp 425 juta sehari...

0cashpo.jpg

Rp 1,7 Trilyun bisa membeli

* 10,394 mobil Toyota Kijang Innova E 2.0 M/T @ Rp 163.550.000
* Gaji 133 ribu pegawai @ 1,500,000 / bulan atau
* gaji satu pegawai selama 94 ribu tahun @ 1,500,000 / bulan
* 283,333,333 mangkok Mie Ayam @ 6,000
* 17 juta tiket Manchester United vs Indonesia All Star Kelas III : Rp. 100,000
Kalau Stadion Utama Senayan berkapasitas 90 ribu orang
maka kita bisa traktir orang sebanyak 189 stadion

Ironis Alutsista-Hercules dibanding Kekayaan Mantan Jenderal

Nusantaranews- Informasi, Fakta dan Opini

* Home
* Indonesia
* Buku Tamu & Linker
* Info Blogku

Ironis Alutsista-Hercules dibanding Kekayaan Mantan Jenderal
2009 Mei 26
tags: alutsista tni, boediono, dana kampanye, hercules, jk, kekayaan jenderal, megawati, sby, wiranto
by nusantaraku

Ironis Alutista dan Hercules TNI dibanding Kekayaan Mantan Jenderal

Minimnya alokasi anggaran bidang pertahanan terutama Alutsista ternyata berbanding terbalik dengan nilai kekayaan serta kemampuan finansial dari para mantan pimpinan TNI masa lalu, yang sekarang saling bertarung dalam pemilihan umum presiden (Pilpres) 2009, baik sebagai kandidat, maupun sebagai tim sukses.

Menurut Direktur Eksekutif Propatria Institute Hari T Prihartono [kompas]:
“Sekarang Indonesia benar-benar dalam kondisi yang sangat berduka setelah sekian kali para putra terbaiknya di TNI berguguran akibat keterbatasan kemampuan keuangan negara dan akibat tidak cukup andalnya manajemen organisasi pertahanan sendiri,……
Saya kira dalam kondisi macam sekarang bisa saja, misalnya, para mantan jenderal TNI yang berkemampuan finansial dan kekayaan besar tadi menyumbang setidaknya 10 persen kekayaan mereka untuk membantu TNI. Namun ke depan perlu juga dicari solusi lain sehingga semua pihak bisa serius menyelesaikan persoalan yang dihadapi TNI itu,”

Salah satu penyebab kecelakaan pesawat Hercules adalah minimnya anggaran untuk alutsista TNI AU. Usia peralatan dan persenjataan TNI AU yang telah mencapai puluhan tahun masih terus digunakan. Dan sebagian pesawat TNI AU justru tidak bisa digunakan karena kekurangan suku cadang, sedang dalam perbaikan, padahal wilayah kerja TNI AU sangatlah luas dari Aceh hingga Papua.

Perbedaan yang mencolok antara kekayaan para mantan Jenderal TNI dengan kondisi alutsista memang wajar disentil. Memang, sebagian besar kekayaan Prabowo dan Wiranto datang dari usaha bisnisnya kecuali SBY.

1. Letjen (Purn) Prabowo = Rp 1600 miliar
2. Jusuf Kalla = Rp 300 miliar
3. Megawati Soekarno Putri = Rp 106 miliar
4. Jenderal (Purn) Wiranto = Rp 81 miliar
5. Boediono = Rp 21 miliar
6. Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono = Rp 9 miliar

********

Berapa Kekayaan Keluarga SBY?

Ada hal menarik mengenai kekayaan Jend (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono. Ada pertanyaan tentang dana kampanye putra makhota SBY yakni Edhie Baskoro. KPU harus menyampaikan ke publik dana kampanye tiap parpol serta dana kampanye tiap caleg, tidak terkecuali Caleg Terpilih Edhie Baskoro. Ini terkait perhitungan kasar dari tim Hasto Kristiyanto (anggota Fraksi PDIP) pada Maret 2009 silam atas dana kampanye Edhie Baskoro yang mencapai Rp 7 miliar.

Edhie Baskoro Yudhoyono lulusan Financial Commerce dan Electrical Commerce Curtin University of Technology di Perth, Australia Barat diperkirakan menghabiskan anggaran kampanye hingga Rp 7 miliar rupiah. Ia menjadi mendadak terkenal melalui poster dan spanduk yang tersebar di wilayah Ngawi, Magetan, Ponorogo dan Trenggalek, Pacitan. Berikut hasil kalkulasi kasar dari Tim Hasto Kristiyanto atas biaya kampanye Edhie Baskoro :

* Baliho berukuran 5 x 10 meter, lebih kurang 100 buah per kabupaten.
* Baliho berukuran 4 x 6 meter, lebih kurang 300 buah per tiap kabupaten.
* Baliho berukuran 1 x 2 meter, lebih kurang 400 unit per kabupaten.
* Bendera berukuran 8 x 12 meter, jumlahnya 200 buah tiap kabupaten.
* Bendera berukuran 4 x 6 meter, jumlahnya 1.000 per-kabupaten.
* Bendera berukuran 2 x 3 meter, jumlahnya 2.000 per kabupaten.
* Puluhan ribu stiker Edhie Baskoro Y.
* 5 buah billboard dan televisi berjalan.

Tentu, harus dipertanyakan dari mana saja sumber pendanaan Edhie Baskoro mengingat ia berada di nomor urut 3 berkompetisi dengan rekan-rekan caleg Demokrat lainnya? Mungkinkah DPP Pusat Demokrat membiayai dana kampanye Edhie Baskoro ataukah dari uang sang Ayah atau dari mana? Jika sebagian dana kampanye Edhie Baskoro berasal dari keluarga, maka hendaknya laporan kekayaan capres/cawapres harus memasukkan kekayaan anggota keluarganya.

*********

Dua pertanyaan mendasar bahwa para ribuan caleg DPR RI telah menghabiskan anggaran ratusan hingga miliaran rupiah dan ratusan ribu caleg DPRD I/II menghabiskan puluhan hingga ratusan juta untuk Pemilu 2009 ini. Ditengah minimnya anggaran pertahanan, para caleg pemilu 2009 dapat menghabiskan triliunan bahkan belasan triliun rupiah untuk merebut kursi di legislatif. Entalah….. yang pasti para caleg akan semakin kaya jika mereka terpilih untuk menjadi anggota dewan selama 5 tahun. Mereka pula yang senang mendapat kenaikan gaji.

JK-Wiranto Memperbesar Peluang Kemenangan SBY

oleh: Wimar Witoelar

3 Mei 2009

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/235058/34/

.

wwjkpo.jpg AGAK susah dimengerti oleh orang luar, mengapa Golkar menurunkan pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto pada pemilihan presiden nanti.Pasangan itu sukar untuk menang dan malah memperbesar peluang SBY


Terlihat juga bahwa dalam kerangka Koalisi Besar, di mana Golkar mengikatkan diri dengan PDIP,Hanura, Gerindra, dan beberapa partai kecilmenengah, pasangan JK-Wiranto ini akan diikuti pasangan berinti PDIP, misalnya Megawati-Prabowo, Ini cukup menarik bukan dalam arti menarik banyak suara, tapi menarik karena membuat Pilpres 2009 menjadi lebih meriah.

Keuntungan bagi SBY adalah, tanpa melakukan apa-apa, Golkar dan PDIP harus berbagi suara pemilih, kalau tidak mau dikatakan rebutan, sehingga masing-masing mendapat suara yang makin sedikit untuk menyaingi suara SBY yang lebih solid. Karena itu,orang awam kurang bisa mengerti, mengapa Golkar memilih pasangan JK-Wiranto, yang dua-duanya bukan figur yang disukai secara meluas.

Jusuf Kalla dalam partainya sendiri tidak mendapat dukungan yang solid,sampai 26 DPD Tingkat I menemuinya dan mempertanyakan pencalonannya sebagai presiden dalam keadaan Golkar tidak punya kekuatan di kotak suara. Selain kelemahannya di Golkar, Jusuf Kalla tidak punya jejak rekam (track record) yang bersih sebagai penguasa dan pengusaha yang banyak memberi jalan bagi bisnis keluarganya dalam proyek-proyek prasarana dari pemerintah.

Pasangan yang dipilihnya, Wiranto,adalah orang yang belum lepas dari kontroversi pelanggaran HAM tahun 1999 dan sebelumnya. Katakanlah dia (Wiranto) tidak bersalah,tapi ia masih tercatat dalam kategori bermasalah di pengadilan internasional. Ada yang bertanya,mana mungkin orang Golkar tidak sadar akan kelemahan pasangan calon ini? Jawabannya bisa ada tiga, paling sedikit.

Pertama,Golkar sadar,tapi tiap anggota pimpinan punya agenda samping, bukan untuk memenangkan Pilpres 2009 tapi meningkatkan posisi tawar masing-masing. Lagi pula,Golkar tidak punya ruang untuk mundur karena sudah menyatakan JK akan jadi capres. Bagi Wiranto, lain keadaannya.

Dia mendapat kesempatan bagus,tidak mungkin ia mendapat posisi yang lebih bagus dari cawapres dalam pasangan Golkar, walaupun merosot dari posisi pada 2004,di mana ia menjadi capres Golkar.

Kedua, JK tidak sadar akan kelemahan pasangan ini karena faktor ego mendominasi rasio. Dipancing oleh ucapan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat yang mengecilkan arti Golkar,JK langsung menegaskan bahwa ia tidak memerlukan SBY dan menyatakan niat menjadi calon presiden. Dalam sepak bola, tindakan ini bisa disebut bunuh diri,suatu blunder.

Ketiga,JK tidak sadar bahwa ia dihasut atau “dikomporin” oleh orang Golkar yang ingin melihat dirinya kalah di pilpres dan tersingkir dari Golkar,seperti Wiranto di 2004. Tokoh-tokoh Golkar banyak yang bisa menarik suara pemilih dan bergabung dengan SBY. Akbar Tandjung atau Sri Sultan bisa menjadi cawapres tanpa memerlukan legalitas pimpinan karena pemilihan presiden adalah pemilihan langsung,di mana pimpinan partai tidak menentukan.

Dengan kelemahan-kelemahan pada pasangan Golkar ini, kita menunggu pengumuman dari PDIP. Seperti biasa, dalam politik tidak ada yang jelas,tapi pasti pemegang peran utama adalah Megawati atau orang-orang yang diizinkan memakai namanya.Megawati adalah orang yang paling awal menyatakan niatnya menjadi calon presiden dan sudah dikukuhkan sebagai calon presiden dalam suatu keputusan partai resmi.

Dalam perundingan membentuk koalisi selama ini,soal gengsi dan komitmen untuk menjadi calon presiden menjadi penghambat utama. Boleh dikatakan, kepentingan partai –apalagi kepentingan negara– harus disesuaikan dengan kepentingan menjaga komitmen untuk menjadi calon presiden.

Bagi Koalisi Besar, dengan deklarasi pencalonan JK-Wiranto (Golkar dan Hanura), maka tersisa dua calon yang sama-sama berniat kuat menjadi calon presiden,yaitu Megawati dari PDIP dan Prabowo dari Gerindra. Karena susah terbayang Megawati akan rela menjadi wakil presiden,maka orang banyak berasumsi bahwa pasangan ketiga adalah Megawati-Prabowo.

Namun,masih ada satu kemungkinan Megawati merelakan posisi wakil presiden, yaitu bukan dia sendiri yang maju tapi putrinya, Puan Maharani. Bayangkan, pasangan Prabowo sebagai capres dan Puan Maharani sebagai cawapres, banyak yang akan tertarik walaupun dalam pemilihan umum tidak akan banyak mendapat dukungan. Rupanya ada perjanjian moral antara anggota Koalisi Besar bahwa pihak yang tersingkir dari dua besar dalam pemilihan presiden putaran pertama akan mendukung pasangan rekan koalisi pada putaran kedua.

Menjadi pertanyaan, apakah pendukung Prabowo akan mendukung Wiranto atau sebaliknya, apakah pendukung Megawati akan mendukung Jusuf Kalla atau sebaliknya? Mungkin pertanyaan itu tidak perlu dijawab kalau pilpres hanya berlangsung satu babak, jika SBY mengambil mayoritas yang diperlukan. Lepas dari semua, ada suatu ironi di sini. Dua dari jenderal paling berkuasa pada masa Orde Baru, sekarang menjadi saingan pada pemilihan presiden.

Dua-duanya sampai sekarang masih diliputi “awan gelap” mengenai peran masing-masing dalam kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia pada waktu transisi keluar dari Orde Baru, khususnya tragedi Mei 1998. Sangat disayangkan keduanya belum dihadapkan pada mahkamah yang menjernihkan pertanyaan seputar sejarah hitam tersebut.

Karena itu, masyarakat banyak yang masih khawatir bahwa kekerasan bisa kembali menguasai pemerintahan kita. Lepas dari apa pun itu, kita ingin dipimpin oleh orang yang bernaluri damai.Menurut teman facebook bernama Aboeprayitno Sumono, pilihan kita sekarang bukanlah antara the beauty and the beast.

Kalaupun kita anggap SBY lebih baik dari calon lain,dia bukan juga seorang beauty.Tapi, banyak orang yang bisa menerima kekurangannya. Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah the beast yang nanti kalah di Pilpres 2009 akan hilang dari percaturan politik atau muncul lagi di tahun 2014? (*)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More